1.
Pendahuluan
Pembangkit
Listrik Tenaga Nuklir adalah sebuah pembangkit daya thermal yang menggunakan
satu atau beberapa reaktor nuklir sebagai sumber panasnya. Prinsip kerja sebuah
PLTN hampir sama dengan sebuah Pembangkilt Listrik Tenaga Uap, menggunakan uap
bertekanan tinggi untuk memutar turbin. Putaran turbin inilah yang diubah
menjadi energi listrik. Perbedaannya ialah sumber panas yang digunakan untuk
menghasilkan panas. Sebuah PLTN menggunakan Uranium sebagai sumber panasnya.
Reaksi pembelahan (fisi) inti Uranium menghasilkan energi panas yang sangat
besar.
PLTN dikategorikan berdasarkan jenis
reaktor yang digunakan. Namun pada beberapa pembangkit yang memiliki beberapa
unit reaktor yang terpisah memungkinkan untuk menggunakan jenis reaktor yang
berbahan bakar seperti Uranium dan Plutonium.
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima I sering disebut sebagai Fukushima Dai-ichi, adalah sebuah
pembangkit listrik tenaga nuklir yang terletak di kota Okuma di Distrik Futaba,
Prefektur Fukushima, Jepang. Dengan 6 unit terpisah yang terletak di situs
dengan jumlah tenaga 4,7 GW, Fukushima I adalah satu dari 25 pembangkit listrik
tenaga nuklir terbesar di dunia. Fukushima I adalah pembangkit listrik tenaga
nuklir pertama yang dibangun dan dijalanakan seluruhnya oleh Tokyo Electric
Power Company (TEPCO).
·
Keuntungan
PLTN memiliki segudang
kelebihan dibandingkan dengan pembangkit daya utama lainnya. Beberapa kelebihan
itu yakni tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca (selama operasi normal) - gas
rumah kaca hanya dikeluarkan ketika Generator Diesel Darurat dinyalakan dan
hanya sedikit menghasilkan gas), tidak mencemari udara - tidak menghasilkan
gas-gas berbahaya sepert karbon monoksida, sulfur dioksida, aerosol, mercury,
nitrogen oksida, partikulate atau asap fotokimia, sedikit menghasilkan limbah
padat (selama operasi normal), biayabahan bakar rendah - hanya sedikit bahan
bakar yang diperlukan.
·
Kerugian
Pasca peristiwa
kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi akibat terjangan gelombang tsunami pada 11
Maret 2011 yang lalu telah mendorong dilakukannya kajian mendalam terhadap
sistem keselamatan (stress test)
untuk semua PLTN di Jepang. Dalam rangka pelaksanaan stress test tersebut 50 PLTN (dengan kapasitas total
pembangkitan listrik 46,15 GWe) otomatis tidak dioperasikan atau dalam
kondisi shutdown. Meskipun
penghentian operasi tersebut dilaksanakan secara bertahap, namun per 5 Mei
2012, dengan penghentian operasional PLTN Tomari Unit 3, negeri Sakura tersebut
memasuki musim panas tanpa listrik dari nuklir setelah lebih dari 40 tahun.
Jepang adalah negara industri terkemuka yang memerlukan
dukungan ketersediaan pasokan energi yang cukup dan handal. Dengan padamnya
semua PLTN, pasokan listrik nuklir yang memberikan kontribusi sekitar 30% tentu
sangat terasa dampaknya. Sebagai antisipasi jangka pendek, Jepang meningkatkan
pembangkitan listrik dari sumber konvensional, yaitu minyak bumi dan batubara.
Tercatat selama lebih dari satu tahun terakhir, impor kedua komoditas tersebut
meningkat 5-10%. Di samping itu, pemerintah juga memprogramkan penghematan
listrik besar-besaran di sektor rumah tangga, perkantoran, hingga bisnis. Namun
demikian apakah kebutuhan listrik tercukupi dengan aman, apalagi memasuki musim
panas dimana biasa terjadi puncak beban listrik?
Meskipun popularitas dukungan publik terhadap program
nuklir di Jepang pasca tragedi Fukushima Daiichi tahun lalu sangat merosot,
bahkan di bawah kisaran 20%, tetapi masyarakat Jepang harus cukup realistis
bahwa mereka tidak akan mudah meninggalkan nuklir dalam jangka pendek. Meskipun
upaya penghematan listrik di sisi penggunaan, dan penambahan pembangkitan listrik
dari sumber lain di sisi penyediaan telah dilakukan, namun tidak sepenuhnya
bisa mencukupi kebutuhan listrik untuk keseluruhan negeri Jepang.
·
Kebutuhan dan kapasitas
Menyadari semua kemungkinan kebutuhan listrik yang tidak tercukupi,
beberapa kelompok masyarakat ataupun pemerintah lokal memandang realistis untuk
mengusulkan pengoperasian PLTN di wilayah mereka. Perfecture Fukui di
wilayah barat Jepang bahkan semenjak bulan April telah mengusulkan restrarting
PLTN Ohi Unit 3 dan 4 yang dioperasikan oleh Kansai Electric Power Company
(KEPCO). Setelah melalui proses evaluasi dan penilaian yang panjang terhadap
hasil stress test terhadap kedua PLTN tersebut, pada 16 Juni 2012
akhirnya pemerintah pusat ( melalui Perdana Menteri Yoshihiko Noda) memberikan
keputusan pengoperasian kembali kedua PLTN tersebut.
Setelah melakukan segala persiapan teknis, PLTN Ohi Unit 3 di-restart
pada 1 Juli 2012 dan mencapai kondisi kritis pada jam 06.00 pagi keesokan
harinya. Pengoperasian kembali reaktor ini di bawah pengawasan yang sangat
ketat oleh Nucelar and Industrial Safety Agency (NISA) dan disaksikan langsung
oleh Mr. Seishu Makino, Senior Vice Minister of Economic, Trade, dan Industry (METI).
Selanjutnya reaktor mulai membangkitkan listrik pada tanggal 5 Juli 2012 dan
mencapai kapasitas penuh 1,180 GWe pada 9 Juli 2012. Tanggal ini menandai
berakhirnya masa vakum listrik nuklir Jepang yang berlangsung kurang lebih dua
bulan, semenjak 5 Mei 2012, saat seluruh PLTN harus menjalani stress test.
PLTN Ohi Unit 4 kemudian menyusul dioperasikan kembali per 21 Juli 2012 dan
mencapai kapasitas penuh pada 25 Juli 2012.
PLTN Ohi Unit 3 dan 4,
yang terletak di pantai barat pulau Honsyu, merupakan reaktor tipe air tekan (Pressurizer
Water Reactor, PWR). PLTN ini berbeda dengan PLTN Fukushima Daiichi yang
bertipe reaktor air didih (Boiling Water Reactor, BWR). PLTN Ohi Unit 3
dan 4 selesai dikonstruksi pada awal tahun 90-an, dan mulai dioperasikan
masing-masing pada 18 Desember 1991 dan 2 Februari 1993. Dengan demikian kedua
PLTN tersebut baru dioperasikan setengah waktu umur pakainya (biasanya sekitar
40 tahun), dan apabila pemerintah Jepang (melalui NISA dan METI) telah
menyetujui hasil stress test, serta beberapa up grade sistemnya,
maka PLTN tersebut dipastikan akan beroperasi secara aman dan selamat.
Dengan pengoperasian PLTN Ohi Unit 3 dan 4 secara penuh, maka listrik
nuklir Jepang kembali mengalir dengan kapasitas 2,36 GWe (5,11 persen dari
kapasitas total 46,15 GWe). Setelah operasional kedua PLTN ini tidak menutup
kemungkinan Jepang akan mengoperasikan kembali PLTN-PLTN yang lainnya, tentu
saja setelah memastikan semua sruktur, sistem dan komponen dapat beroperasi
secara handal dan selamat.
2.Prinsip
Kerja Reaktor Nuklir
Energi yang dihasilkan dalam reaksi
fisi nuklir dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna. Untuk itu, reaksi
fisi harus berlangsung secara terkendali di dalam sebuah reaktor nuklir. Sebuah
reaktor nuklir paling tidak memiliki empat komponen dasar, yaitu elemen bahan
bakar, moderator neutron, batang kendali, dan perisai beton.
Elemen bahan bakar menyediakan
sumber inti atom yang akan mengalami fusi nuklir. Bahan yang biasa digunakan
sebagai bahan bakar adalah uranium U. Elemen bahan bakar dapat berbentuk batang
yang ditempatkan di dalam teras reaktor.
Neutron-neutron yang dihasilkan dalam fisi uranium berada dalam kelajuan yang cukup tinggi. Adapun, neutron yang memungkinkan terjadinya fisi nuklir adalah neutron lambat sehingga diperlukan material yang dapat memperlambat kelajuan neutron ini. Fungsi ini dijalankan oleh moderator neutron yang umumnya berupa air. Jadi, di dalam teras reaktor terdapat air sebagai moderator yang berfungsi memperlambat kelajuan neutron karena neutron akan kehilangan sebagian energinya saat bertumbukan dengan molekul-molekul air.
Fungsi pengendalian jumlah neutron yang dapat
menghasilkan fisi nuklir dalam reaksi berantai dilakukan oleh batang-batang
kendali. Agar reaksi berantai yang terjadi terkendali dimana hanya satu neutron
saja yang diserap untuk memicu fisi nuklir berikutnya, digunakan bahan yang
dapat menyerap neutron-neutron di dalam teras reaktor. Bahan seperti boron atau
kadmium sering digunakan sebagai batang kendali karena efektif dalam menyerap
neutron.Neutron-neutron yang dihasilkan dalam fisi uranium berada dalam kelajuan yang cukup tinggi. Adapun, neutron yang memungkinkan terjadinya fisi nuklir adalah neutron lambat sehingga diperlukan material yang dapat memperlambat kelajuan neutron ini. Fungsi ini dijalankan oleh moderator neutron yang umumnya berupa air. Jadi, di dalam teras reaktor terdapat air sebagai moderator yang berfungsi memperlambat kelajuan neutron karena neutron akan kehilangan sebagian energinya saat bertumbukan dengan molekul-molekul air.
Batang kendali
didesain sedemikian rupa agar secara otomatis dapat keluar-masuk teras reaktor.
Jika jumlah neutron di dalam teras reaktor melebihi jumlah yang diizinkan
(kondisi kritis), maka batang kendali dimasukkan ke dalam teras reaktor untuk
menyerap sebagian neutron agar tercapai kondisi kritis. Batang kendali akan
dikeluarkan dari teras reaktor jika jumlah neutron di bawah kondisi kritis
(kekurangan neutron), untuk mengembalikan kondisi ke kondisi kritis yang
diizinkan.
Radiasi yang dihasilkan dalam proses
pembelahan inti atom atau fisi nuklir dapat membahayakan lingkungan di sekitar
reaktor. Diperlukan sebuah pelindung di sekeliling reaktor nuklir agar radiasi
dari zat radioaktif di dalam reaktor tidak menyebar ke lingkungan di sekitar
reaktor. Fungsi ini dilakukan oleh perisai beton yang dibuat mengelilingi teras
reaktor. Beton diketahui sangat efektif menyerap sinar hasil radiasi zat
radioaktif sehingga digunakan sebagai bahan perisai.
3.Kerusakan
Gempa bumi dan tsunami telah
menyebabkan kerusakan parah di tiga dari empat reaktor PLTN Fukushima Daiichi,
sehingga mengalami peleburan inti atom. Dan akibatnya, terjadinya kebocoran
unsur radio-aktif dalam volume yang cukup besar, yang terlepas ke atmosfir.
Direktur operator PLTN Fukushima
TEPCO, Naomi Hirose, menyatakan akan mereparasi empat reaktor atom di PLTN
Fukusima Daini, yang meski juga mengalami kerusakan, akan tetapi lebih ringan
dibanding Fukushima Daiichi. Namun para pakar atom segera memperingatkan
bahayanya, jika reaktor itu diaktifkan lagi.
4. Dampak lingkungan
Bencana nuklir Fukushima berdampak
sangat besar pada lingkungan, dan kehidupan masyarakat luas yang hidup di
sekitar pembangkit nuklir,” kata Knoth.
Sejak awal krisis pada 11 Maret
2011, spesialis radiasi Greenpeace telah mendokumentasikan (2) dampak kontaminasi
radiasi yang terjadi pada lingkungan, makanan dan makanan laut untuk
membuktikan bagaimana pemerintah Jepang secara konsisten meremehkan dampak
keseluruhan dari radiasi di sekitar Fukushima.
“Peremehan dampak bencana nuklir
oleh pihak pemerintah telah memperbesar derita masyarakat Fukushima,” kata
Junichi Sato, Direktur Eksekutif Greenpeace Jepang. “Sekarang, pemerintah
terburu-buru untuk mengaktifkan kembali reaktor yang bertentangan dengan
keinginan masyarakat dan tanpa belajar dari pengalaman Fukushima
Bencana nuklir Fukushima terjadi karena
pemerintah Jepang gagal melindungi masyarakat, justru lebih memilih melindungi
industri nuklir. Untuk alasan ini, masyarakat di Jepang terus dihinggapi resiko
radiasi meski satu tahun mendatang. Mereka tidak mendapatkan kompensasi atas
kehilangan apa-apa yang mereka miliki, dan mereka tidak memperoleh dukungan
yang mereka butuhkan untuk membangun kembali kehidupan mereka,” kata Jan
Baranek, Kepala Kampanye Energi Nuklir Greenpeace Internasional. “Ini peringatan
bagi kita bahwa jutaan masyarakat yang hidup di sekitar reaktor dimana pun di
dunia ini ada dalam konsekuensi resiko yang sama dari bencana nuklir,”
“Alam sudah mengambil alih. Di waktu pagi,
sejumlah kera mencari makan di pinggiran desa, babi liar berkeliaran di
lapangan, burung bangau melambung indah saat menarik nafas, dan ada
keheningan,” kata Knoth.
Jepang telah meluncurkan pertama kali pameran
serial foto-foto Knoth (3). Kolaborasi Fukushima oleh Knoth dan De Jong adalah
kelanjutan dari pekerjaan sebelumnya bersama Greenpeace atas dampak yang sedang
berlangsung pada bencana nuklir Chernobyl terhadap masyarakat Ukraina (4).
Greenpeace meminta pemerintah Jepang
untuk tidak mengaktifkan kembali satu pun pembangkit nuklir dan secara global
untuk beralih dari bencana yang terkandung dalam reaktor nuklir.
(Greenpeace
adalah organisasi kampanye global yang independen, yang beraksi untuk mengubah
sikap dan perilaku, melindungi dan menjaga lingkungan hidup, dan mendorong
perdamaian).
5. Dampak sosial ekonomi
& kesehatan
Puluhan ribu orang yang memutuskan untuk
mengungsi secara sukarela untuk mengurangi risiko paparan radiasi. Sebagian
telah ditawarkan hanya $ 1.043 sebagai salah satu pembayaran. Pengacara TEPCO
juga telah berusaha untuk menghindari kewajiban mereka untuk membayar biaya
dekontaminasi dengan mengklaim bahwa radiasi, serta beban mengatasinya sekarang
menjadi milik pemilik tanah, bukan untuk perusahaan. Keluarga telah terpecah,
kehilangan rumah dan komunitas mereka. Orang-orang telah kehilangan pekerjaan
dan biaya kehidupan mereka dalam beberapa kasus meningkat dua kali lipat –
walau demikian, paket pertama dukungan keuangan satu kali, terbatas pada jumlah
simbolis
$
13.045 dan datang dari TEPCO hanya setelah penduduk dipindahkan selama beberapa
bulan. Apa yang seharusnya menjadi paket pertama kompensasi yang lebih besar
dimulai enam bulan kemudian ketika TEPCO memberikan orang-orang dengan formulir
aplikasi 60-halaman, beserta 150 halaman instruksi. Banyak orang berjuang untuk
memahaminya, dan banyak lainnya hanya menyerah, memilih untuk melupakan dan
melanjutkan. Yang penting, hukum Jepang mengharuskan TEPCO memiliki asuransi
wajib senilai $ 1,6 miliar, yang berarti bahwa apa pun atas jumlah ini mungkin
tidak tersedia jika perusahaan menghadapi kesulitan keuangan yang tak
terelakkan atau kebangkrutan. Sejauh ini, perusahaan telah membayar kompensasi
kepada warga dalam jumlah sekitar $ 3,81 milyar. Perkiraan biaya riil kerusakan
saat ini mencapai tingkatan 75-260 milyar dolar. Biaya keseluruhan dari
kecelakaan Fukushima termasuk kompensasi dan dekomisioning enam reaktor Daiichi
telah diproyeksikan mencapai 500-650 milyar dolar. Jelas sudah bahwa pemerintah
akan turun tangan, dengan satu cara atau yang lainnya, untuk membantu TEPCO.
Sebagian besar biaya kerusakan, jika pernah dikompensasi, akan dipanggul oleh
pembayar pajak.
Kebocoran nuklir terjadi ketika
sistem pembangkit tenaga nuklir atau kegagalan komponen menyebabkan inti
reaktor tidak dapat dikontrol dan didinginkan sehingga bahan bakar nuklir yang
dilindungi – yang berisi uranium atau plutonium dan produk fisi radioaktif –
mulai memanas dan bocor. Sebuah kebocoran dianggap sangat serius karena
kemungkinan bahwa kontainmen reaktor mulai gagal, melepaskan elemen radioaktif
dan beracun ke atmosfer dan lingkungan. Dari sudut pandang pembangunan, sebuah
kebocoran dapat menyebabkan kerusakan parah terhadap reaktor, dan kemungkinan
kehancuran total.
Beberapa kebocoran
nuklir telah terjadi, dari kerusakan inti hingga kehancuran total terhadap inti
reaktor. Dalam beberapa kasus hal ini membutuhkan perbaikan besar atau
penutupan reaktor nuklir. Sebuah ledakan nuklir bukanlah hasil dari kebocoran
nuklir karena, menurut desain, geometri dan komposisi inti reaktor tidak
membolehkan kondisi khusus memungkinkan untuk ledakan nuklir. Tetapi, kondisi
yang menyebabkan kebocoran dapat menyebabkan ledakan non-nuklir. Contohnya,
beberapa kecelakaan tenaga listrik dapat menyebabkan pendinginan bertekanan
tinggi, menyebabkan ledakan uap.
Kebocoran nuklir
adalah dampak yang paling ditakutkan di balik manfaaat energi nuklir bagi
manusia. Dalam catatan sejarah manusia terdapat kejadian kecelakan nuklir
terbesar di dunia di antaranya adalah kecelakaan Chernobyl, Three Mile Island
Amerika dan mungkin di Fukushima Jepang.
Diantaranya dampak dari kebocoran
reaktor nuklir adalah :
• Dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi tinggi di sekitar reaktor nuklir antara lain mual muntah, diare, sakit kepala dan demam.
• Sedangkan dampak jangka menengah atau beberapa hari setelah paparan adalah pusing, mata berkunang-kunang. Disorientasi atau bingung menentukan arah, lemah, letih dan tampak lesu, muntah darah atau berak darah, kerontokan rambut dan kebotakan, tekanan darah rendah , gangguan pembuluh darah dan luka susah sembuh.
• Dampak jangka panjang dari radiasi nuklir umumnya justru dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga bertahun-tahu(seperti yang sudah terjadi di Ukraina).
• Dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi tinggi di sekitar reaktor nuklir antara lain mual muntah, diare, sakit kepala dan demam.
• Sedangkan dampak jangka menengah atau beberapa hari setelah paparan adalah pusing, mata berkunang-kunang. Disorientasi atau bingung menentukan arah, lemah, letih dan tampak lesu, muntah darah atau berak darah, kerontokan rambut dan kebotakan, tekanan darah rendah , gangguan pembuluh darah dan luka susah sembuh.
• Dampak jangka panjang dari radiasi nuklir umumnya justru dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga bertahun-tahu(seperti yang sudah terjadi di Ukraina).
• Beberapa dampak
kesehatan akibat paparan radiasi nuklir jangka panjang antara lain Kanker
terutama kanker kelenjar gondok, mutasi genetik, penuaan dini dan gangguan
sistem saraf dan reproduksi.
Dampak kebocoran reaktor nuklir secara spesifik
terhadap manusia :• RAMBUT – Rambut akan menghilang dengan cepat, bila terkena radiasi di 200 Rems atau lebih. Rems merupakan satuan dari kekuatan radioaktif.
• OTAK – sel-sel otak tidak akan rusak secara langsung kecuali terkena radiasi berkekuatan 5000 Rems atau lebih. Seperti halnya jantung, radiasi membunuh sel-sel saraf dan pembuluh darah dan dapat menyebabkan kejang dan kematian mendadak.
• KELENJAR GONDOK – Kelenjar tiroid sangat rentan terhadap yodium radioaktif. Dalam jumlah tertentu, yodium radioaktif dapat menghancurkan sebagian atau seluruh bagian tiroid.
• SISTIM PEREDARAN DARAH – Ketika terkena radiasi sekitar 100 Rems, jumlah limfosit darah akan berkurang, sehingga korban lebih rentan terhadap infeksi. Gejala awal ialah seperti penyakit flu.
• JANTUNG – Bila terkena radiasi berkekuatan 1000 sampai 5000 Rems mengakibatkan kerusakan langsung pembuluh darah dan menyebabkan gagal jantung dan kematian mendadak.
• SALURAN PENCERNAAN – Radiasi dengan kekuatan 200 rems akan menyebabkan kerusakan pada lapisan saluran usus dan dapat menyebabkan mual, muntah dan diare berdarah.
• SALURAN REPRODUKSI – Saluran reproduksi akan merusak saluran reproduksi cukup dengan kekuatan di bawah 200 Rems. Dalam jangka panjang, korban radiasi akan mengalami kemandulan.